19 February 2016

Bolehkah seorang suami menyusu keistrinya atau menetek kepada Istrinya?

Apakah hal itu bila di lakukan tidak mengakibatkan kegagalan nikah karna telah menjadi mahram? Yang kemudian Istrinya berganti status sebagai Ibunya? Begitukah yang terjadi bila di lakukan?

Baiklah mari kita telusuri sumber hukumnya, yang mana Allah telah memberikan garis-garis yang jelas dalam Firmannya, tentu saja walaupun disini kami sebut dengan kata menjelaskan, tetapi kita harus tetap meninjau penjelasan Ulama dalam masalah Hukum, Karena sudah jelas Ulama lebih faqih daripada kita yang tidak jelas kapasitasnya. Adapun Firman itu sebagai berikut :

{ نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم } قال يقول يأتيها من حيث شاء مقبلة أو مدبرة إذا كان ذلك في الفرج

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Disebutkan maksudnya gaulilah ia sesukamu baik dari depan atau belakang asalkan semuanya mengarah pada farjinya. [Al-Muhaddzab II/62]

الاستمتاع واجب على الرجل للمرأة إذا انتفى العذر، بما يحقق الإعفاف والصون عن الحرام، وتباح كل وجوه الاستمتاع إلا الإتيان في الدبر فهو حرام. ومكان الوطء باتفاق المذاهب: هو القبل، لا الدبر (1) ، لقوله تعالى: {نساؤكم حرث لكم، فأتوا حرثكم أنى شئتم} [البقرة:223/2] (2) أي على أية كيفية: قائمة، أو قاعدة، مقبلة، أو مدبرة، في أقبالهن (3) . قال ابن عباس: إنما قوله: {فأتوا حرثكم أنى شئتم} [البقرة:223/2]. قائمة، وقاعدة، ومقبلة، ومدبرة، في أقبالهن، لا تعدو ذلك إلى غيره. وله عبارة أخرى في الآية: إن شئت فمقبلة، وإن شئت فمدبرة، وإن شئت فباركة، وإنما يعني ذلك موضع الولد للحرث، يقول: ائت الحرث حيث شئت.

Menggauli hukumnya wajib bagi seorang suami pada istrinya bila tanpa adanya udzur untuk menjauhkan dan menjaga dari dari keharaman, dan diperbolehkan senggama dalam berbagai cara asalkan bukan pada lubang anusnya karena ini haram. Tempat yang digunakan ‘bercinta’ menurut kesepakan ulama adalah kelaminnya bukan duburnya, berdasarkan firman Allah ta’aalaa :

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya dengan berbagai macam cara dan gaya : Berdiri, duduk, dari depan, belakang asal dikelaminnya.

Berkata Ibn Abbas ra. “maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223). Artinya dengan berbagai macam cara dan gaya : Berdiri, duduk, dari depan, belakang asal dikelaminnya jangan melampaui batas pada yang selain kelamin.

Ibn Abbas juga punya pernyataan lain sehubungan ayat ini “Bila kamu ingin gaya dari depan silahkan, Bila kamu ingin gaya dari belakang silahkan, Bila kamu ingin gaya setengah menderumpun silahkan, aku mengartikannya khusus pada tempat lahirnya anak (kelamin), datangilah dengan gaya sesukamu”[Al-Fiqh al-Islaam IV/191].

Kemudian di saat bercumbu tiba-tiba Air susu istri sengaja ditelan apakah hal itu tidak menyebabkan menjadi Mahram? Mari kita lebih fokus dengan penjelasan Ulama, bagaimana Feqih menjelaskan hal ini. Dalam kitab Fathul Mu’in di sebutkan : Syarat-syarat menyusu yang menjadikan mahram ada 5, kami bahas salah satunya saja :

[1] Usia anak yang menyusu tidak lebih dari 2 tahun Hijriyah. Hal ini didasarkan ayat :

ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦَ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻫُﻦَّ ﺣَﻮْﻟَﻴْﻦِ ﻛَﺎﻣِﻠَﻴْﻦِ ﻟِﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟُﻮﺩِ ﻟَﻪُ ﺭِﺯْﻗُﻬُﻦَّ ﻭَﻛِﺴْﻮَﺗُﻬُﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻟَﺎ ﺗُﻜَﻠَّﻒُ ﻧَﻔْﺲٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﻀَﺎﺭَّ ﻭَﺍﻟِﺪَﺓٌ ﺑِﻮَﻟَﺪِﻫَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻣَﻮْﻟُﻮﺩٌ ﻟَﻪُ ﺑِﻮَﻟَﺪِﻩِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺙِ ﻣِﺜْﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَﺍ ﻓِﺼَﺎﻟًﺎ ﻋَﻦْ ﺗَﺮَﺍﺽٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻭَﺗَﺸَﺎﻭُﺭٍ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺗُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﺴْﺘَﺮْﺿِﻌُﻮﺍ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻛُﻢْ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻠَّﻤْﺘُﻢْ ﻣَﺎ ﺁَﺗَﻴْﺘُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ (233)

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah-233) Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Daruqutni dari Sahabat Ibn Abbas Rasulullah SAW bersabda:

ﻻَ ﺭَﺿَﺎﻉَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﻟَﻴْﻦِ

“Tidak ada hukum persusuan kecuali dalam usia kurang dari dua tahun” Air susu berasal dari perempuan yang sudah berumur 9 tahun Hijriyah.

Keluarnya susu pada waktu masih hidup. Susu yang diminum sampai keperut besar atau otak si anak. Masuknya air susu di waktu sianak dalam keadaan hidup dan tidak kurang dari lima kali susuan. Karenanya, bila seorang lelaki dewasa yang minum susu istrinya hal ini tidak berpengaruh terhadap hukum mahram, dalam arti istrinya tidak menjadi ibu susuan.

Namun bila suaminya adalah seorang bayi yang kurang dari 2 tahun (mungkin ini belum pernah terjadi, namun tetap sah secara syariat) dan memenuhi syarat di atas maka dia menjadi anak susuan, istrinya menjadi ibu rodho’ dan status pernikahannya batal.

Contoh : seorang anak bayi yang belum genap 2 tahun dinikahkan dengan janda yang baru melahirkan. Kemudian istri menyusui suami kecilnya sampai lima kali susuan maka status pernikahannya batal, status istri berubah menjadi ibu rodlo’, mantan suaminya menjadi ayah rodlo’, dan suami kecilnya menjadi anak rodlo’.[2]

أما إن كان كبيرا زائدا على الحولين ورضع فإن رضاعه لا يعتبر وذلك لقوله تعالى : { والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين }

Orang yang sudah dewasa (diatas usia 2 tahun) saat menyusu tidak menjadikan nasab dengan yang menyususui.[Al-Fiqh ‘ala Madzaahi al-Arba’ah IV/126].

penjelasan Imam Malik didalam Muattho'nya sebagai berikut :

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ فَقَالَ إِنِّي مَصِصْتُ عَنْ امْرَأَتِي مِنْ ثَدْيِهَا لَبَنًا فَذَهَبَ فِي بَطْنِي فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا أُرَاهَا إِلَّا قَدْ حَرُمَتْ عَلَيْكَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ انْظُرْ مَاذَا تُفْتِي بِهِ الرَّجُلَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى فَمَاذَا تَقُولُ أَنْتَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ مَا كَانَ هَذَا الْحَبْرُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ
موطأ مالك (4/ 0)

Dari Yahya bin Sa’id berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Abu Musa Al Asy’ari; “Saya pernah menetek pada payudara isteriku hingga air susunya masuk ke dalam perutku?” Abu Musa menjawab; “Menurutku isterimu setatusnya telah berubah menjadi mahram kamu.” Abdullah bin Mas’ud pun berkata; “Lihatlah apa yang telah kamu fatwakan kepada lelaki ini! ” Abu Musa bertanya; “Bagaimana pendapatmu dalam hal ini?” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Tidak berlaku hukum penyusuan kecuali bila masih pada masa dua tahun.” Kemudian Abu Musa berkata; “Janganlah kalian menanyakan suatu perkara kepadaku selama orang alim ini (Ibnu Mas’ud) masih berada di tengah-tengah kalian.”[Al-Muattho']

Sedikit kami beri petunjuk biar tidak sepotong-potong seperti itu, adapun pendapat pertanyakan masalah menyusui di waktu besar, yang di singgung dalam kutipan anda hanyalah menyebabkan dibolehkannya berkhalwat. Benar itu adalah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim, Shan’ani, dan Syaukani. Ada dalam (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa :34/ 60, As Syaukani, Nail al Authar, Riyadh, Dar al Nafais, Juz : 6/ 353, As Shon’ani, Subulu as Salam,Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, 1988, Cet ke -1, Juz 3/ 407).

Akan tetapi pendapat itu menduduki pendapat minoritas, yakni sangat menyelisihi dan berlawanan dengan jumhur Ulama'. Adapun pendapat Ulama yang Mu'tabar, kuat dan sangat unggul adalah tetap tidak bisa. Bahwa menyusui waktu besar tidak bisa menjadikan mahram. Ini adalah pendapat istri-istri Rasullahshallallahu ‘alaihi wasallam, dan mayoritas ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan pendapat dari madzhab Malikiyah, Syafi’yah serta Hanabilah. (Az Zaila’i, Tabyinu Al Haqaiq : 2/182 , Al Kasynawi, Ashalu al Madarik : 2/ 213, As Syafi’I, Al Umm : 5/ 48 , Al Bahuti, Ar Raudh Al Murabbi, hlm : 515).

Salah satu hadits yang menunjukan adalah "Aisyah" radliyallahu ‘anha, bahwasanya ia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَالَ يَا عَائِشَةُ مَنْ هَذَا قُلْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ قَالَ يَا عَائِشَةُ انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dan saat itu disampingku ada seorang pemuda. Beliau bertanya: “Wahai Aisyah, siapakah orang ini?” Aku menjawab: “Ia saudara sesusuanku”. Beliau bersabda: “Wahai Aisyah teliti lagi, siapa sebenarnya yang menjadi saudara-saudara kalian yang sebenarnya, karena sesusuan itu terjadi karena kelaparan.” (HR. Bukhari no: 2453).

Hadist di atas menunjukkan bahwa susuan yang menyebabkan seseorang menjadi mahram adalah susuan dikarenakan lapar (maja’ah) yaitu pada waktu kecil. Penjelasan semacam ini bisa dilihat pada: Al Nihayah fi Gharib al Hadist wa al Atsar (Ibnu al Atsir (544 H-606 H), Mekkah, Dar Al Baaz: 1/316) Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak senang melihat Aisyah bersama laki-laki yang barangkali bukan satu susuan waktu kecil. (Ibnu Qayyim, Zaad al Ma’ad: 5/516).

 
Tapi perlu di perhatikan juga hadist ini :

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِ أَبِي حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُولِ سَالِمٍ وَهُوَ حَلِيفُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْضِعِيهِ قَالَتْ وَكَيْفَ أُرْضِعُهُ وَهُوَ رَجُلٌ كَبِيرٌ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيرٌ زَادَ عَمْرٌو فِي حَدِيثِهِ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami 'Amru An Naqid dan Ibnu Abi Umar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Abdurrahman bin Qasim dari ayahnya dari Aisyah dia berkata; Sahlah binti Suhail datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata; Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya melihat di wajah Abu Hudzaifah (ada sesuatu) karena keluar masuknya Salim ke rumah, padahal dia adalah pelayannya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Susuilah dia. Dia (Sahlah) berkata; Bagaimana mungkin saya menyusuinya, padahal dia telah dewasa? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terenyum sambil bersabda: Sungguh saya telah mengetahuinya kalau dia telah dewasa. Dalam haditsnya 'Amru menambahkan; Bahwa dia telah ikut serta dalam perang Badr. Dan dalam riwayatnya Ibnu Abu Umar lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertawa.[HR.muslim No : 2636].


 
Rujukan :

[1] ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ) –ﺝ / 3 ﺹ )329  ﺗﻨﺒﻴﻪ( ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﺻﻮﻝ ﻟﺒﻦ ﺁﺩﻣﻴﺔ ﺑﻠﻐﺖ ﺳﻦ ﺣﻴﺾ، ﻭﻟﻮ ﻗﻄﺮﺓ، ﺃﻭ ﻣﺨﺘﻠﻄﺎ ﺑﻐﻴﺮﻩ – ﻭﺇﻥ ﻗﻞ – ﺟﻮﻑ ﺭﺿﻴﻊ ﻟﻢ ﻳﺒﻠﻎ ﺣﻮﻟﻴﻦ ﻳﻘﻴﻨﺎ ﺧﻤﺲ ﻣﺮﺍﺕ ﻳﻘﻴﻨﺎ ﻋﺮﻓﺎ، ﻓﺈﻥ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺮﺿﻴﻊ ﺇﻋﺮﺍﺿﺎ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﺑﺸﺊ ﺁﺧﺮ ﺃﻭ ﻗﻄﻌﺘﻪ ﺍﻟﻤﺮﺿﻌﺔ ﺛﻢ ﻋﺎﺩ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻓﻮﺭﺍ ﻓﺮﺿﻌﺘﺎﻥ، ﺃﻭ ﻗﻄﻌﻪ ﻟﻨﺤﻮ ﻟﻬﻮ ﻛﻨﻮﻡ ﺧﻔﻴﻒ ﻭﻋﺎﺩ ﺣﺎﻻ ﺃﻭ ﻃﺎﻝ ﻭﺍﻟﺜﺪﻱ ﺑﻔﻤﻪ ﺃﻭ ﺗﺤﻮﻝ ﻭﻟﻮ ﺑﺘﺤﻮﻳﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺛﺪﻱ ﻵﺧﺮ ﺃﻭ ﻗﻄﻌﺘﻪ ﻟﺸﻐﻞ ﺧﻔﻴﻒ ﺛﻢ ﻋﺎﺩﺕ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻼ ﺗﻌﺪﺩ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺫﻟﻚ، ﻭﺗﺼﻴﺮ ﺍﻟﻤﺮﺿﻌﺔ ﺃﻣﻪ، ﻭﺫﻭ ﺍﻟﻠﺒﻦ ﺃﺑﺎﻩ. ﻭﺗﺴﺮﻱ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺿﻴﻊ ﺇﻟﻰ ﺃﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻓﺮﻭﻋﻬﻤﺎ ﻭﺣﻮﺍﺷﻴﻬﻤﺎ ﻧﺴﺒﺎ ﻭﺭﺿﺎﻋﺎ، ﻭﺇﻟﻰ ﻓﺮﻭﻉ ﺍﻟﺮﺿﻴﻊ – ﻻ ﺇﻟﻰ ﺃﺻﻮﻟﻪ ﻭﺣﻮﺍﺷﻴﻪ – ﻭﻟﻮ ﺃﻗﺮ ﺭﺟﻞ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺃﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺃﺧﻮﺓ ﺭﺿﺎﻉ ﻭﺃﻣﻜﻦ ﺣﺮﻡ ﺗﻨﺎﻛﺤﻬﻤﺎ، ﻭﺇﻥ ﺭﺟﻌﺎ ﻋﻦ ﺍﻻﻗﺮﺍﺭ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻃﻞ، ﻓﻴﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ. ﺭﻭﺍﺋﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ /1/271 ﻣﺎ ﻫﻲ ﻣﺪﺓ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺍﻟﻤﻮﺟﺐ ﻟﻠﺘﺤﺮﻳﻢ ﺫﻫﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﻟﺸﺎﻋﻲ ﻭﺍﺣﻤﺪ ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻭﻳﺠﺮﻱ ﺑﻪ ﻣﺠﺮﻯ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﻣﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﻫﻮ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺣﻮﻟﻴﻦ ﻭﺍﺳﺘﺪﻟﻮﺍ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ “ﻭﺍﻟﻮﺍﻟﺪﺍﺕ ﻳﺮﺿﻌﻦ ﺍﻭﻻﺩﻫﻦ ﺣﻮﻟﻴﻦ ﻛﺎﻣﻠﻴﻦ.

” ﻭﺑﻤﺎ
ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ “ﺍﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻻ ﺭﺿﺎﻉ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺣﻮﻟﻴﻦ .“
ﻭﺫﻫﺐ ﺍﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻥ ﻣﺪﺓ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺳﻨﺘﺎﻥ ﻭﻧﺼﻒ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ “ﻭﺣﻤﻠﻪ ﻭﻓﺼﺎﻟﻪ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺷﻬﺮﺍ.,” ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻲ “ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻻﻭﻝ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺣﻮﻟﻴﻦ ﻛﺎﻣﻠﻴﻦ .“ ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻥ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻥ ﻻ ﺣﻜﻢ ﻟﻤﻦ ﺍﺭﺗﻀﻊ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﻮﻟﻴﻦ ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ

“ﻻ ﺭﺿﺎﻉ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺣﻮﻟﻴﻦ”


 ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻣﻊ ﺍﻻﻳﺔ ﻭﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻳﻨﻔﻲ ﺭﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺍﻧﻪ ﻻ ﺣﺮﻣﺔ ﻟﻪ
ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﻪ ﻭﺑﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻴﺲ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﺍﻧﻪ ﻳﺮﻯ ﺭﺿﺎﻉ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﻋﻨﻪ.]

[2] ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ - )
ﺝ / 3 ﺹ (275 ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﺘﻪ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻓﻄﻠﻘﻬﺎ ﻓﻨﻜﺤﺖ ﺻﻐﻴﺮﺍً ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ ﺑﻠﺒﻦ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﺃﺑﺪﺍً ﻛﻤﺎ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻷﻧﻬﺎ ﺯﻭﺟﺔ ﺃﺑﻴﻪ.ﻭﻟﻮ ﻧﻜﺤﺖ ﺻﻐﻴﺮﺍً ﻓﻔﺴﺨﺖ ﻧﻜﺎﺣﻪ ﺑﻐﻴﺒﺔ ﺛﻢ ﻧﻜﺤﺖ ﺁﺧﺮ ﻓﺄﺭﺿﻌﺖ ﺍﻷﻭﻝ ﺑﻠﺒﻦ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻧﻔﺴﺦ ﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﻭﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺃﺑﺪﺍً ﻷﻥ ﺍﻷﻭﻝ ﺻﺎﺭ ﺍﺑﻨﺎً ﻟﻠﺜﺎﻧﻲ ﻓﻬﻲ ﺯﻭﺟﺔ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺯﻭﺟﺔ ﺃﺑﻲ ﺍﻷﻭﻝ. ﻭﻟﻮ ﺯﻭﺝ ﻣﺴﺘﻮﻟﺪﺗﻪ ﺑﻌﺒﺪﻩ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻓﺄﺭﺿﻌﺘﻪ ﺑﻠﺒﻦ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻣﻌﺎً ﺃﺑﺪﺍً ﻭﺣﻜﻰ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺰﻧﻲ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻤﺰﻧﻲ ﺃﻧﻜﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺟﺮﻯ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻓﺠﻌﻠﻮﺍ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻤﺰﻧﻲ ﻏﻠﻄﺎً ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲ ﻟﻜﻦ ﻳﻤﻜﻦ ﺗﺨﺮﻳﺞ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺟﺒﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻝ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺃﻡ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺰﻭﻳﺠﻬﺎ ﺑﺤﺎﻝ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺫﻛﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﺴﻴﺪ ﺗﺰﻭﻳﺞ ﺃﻣﺘﻪ ﺑﻌﺒﺪﻩ ﺑﺤﺎﻝ ﻓﺈﻧﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻧﺼﺤﺢ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﻫﺬﻩ.ﺍﻵﺭﺍﺀ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺯﻭﺟﺔ ﺍﻹﺑﻦ ﻓﻼ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﺪ.ﻭﻟﻮ ﺃﺭﺿﻌﺘﻪ ﺑﻠﺒﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺍﻧﻔﺴﺦ ﻧﻜﺎﺣﻪ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﻣﺔ ﻭﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺼﺮ ﺍﺑﻨﺎً ﻟﻪ ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻮ ﺃﺭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﻜﺤﺘﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﻟﺒﻦ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺍﻧﻔﺴﺦ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﻫﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻄﻠِّﻖ. ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ) –ﺝ

/ 3 ﺹ (267 ﺍﻟﺒﺎﺏ ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻲ ﺃﺭﻛﺎﻧﻪ ﻭﺷﺮﻭﻃﻪ ﺃﻣﺎ ﺍﻷﺭﻛﺎﻥ ﻓﺜﻼﺛﺔ:. ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻤﺮﺿﻊ ﻭﻟﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻷﻭﻝ ﻛﻮﻧﻪ ﺇﻣﺮﺃﺓ ﻓﻠﺒﻦ ﺍﻟﺒﻬﻴﻤﺔ ﻻ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻓﻠﻮ ﺷﺮﺑﻪ ﺻﻐﻴﺮﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺃﺧﻮﺓ ﻭﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻟﺒﻦ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺃﻳﻀﺎً ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻜﺮﺍﺑﻴﺴﻲ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻟﺒﻦ ﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻻ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺃﻧﻮﺛﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻓﻠﻮ ﺍﺭﺗﻀﻌﻪ ﺻﻐﻴﺮ ﺗﻮﻗﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﺈﻥ ﺑﺎﻥ ﺃﻧﺜﻰ ﺣﺮﻡ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ. ﺍﻟﺸﺮﻁ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﺣﻴﺔ ﻓﻠﻮ ﺍﺭﺗﻀﻊ ﻣﻴﺘﺔ ﺃﻭ ﺣﻠﺐ ﻟﺒﻨﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﻣﻴﺘﺔ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻛﻤﺎ ﻻ ﺗﺜﺒﺖ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻟﻤﺼﺎﻫﺮﺓ ﺑﻮﻁﺀ ﺍﻟﻤﻴﺘﺔ.ﻭﻟﻮ ﺣﻠﺐ ﻟﺒﻦ ﺣﻴﺔ ﻭﺃﻭﺟﺮ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻬﺎ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺹ. ﺍﻟﺸﺮﻁ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﻣﺤﺘﻤﻠﺔ ﻟﻠﻮﻻﺩﺓ ﻓﻠﻮ ﻇﻬﺮ ﻟﺼﻐﻴﺮﺓ ﺩﻭﻥ ﺗﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ ﻟﺒﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺑﻨﺖ ﺗﺴﻊ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﺒﻠﻮﻏﻬﺎ ﻷﻥ ﺍﺣﺘﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻗﺎﺋﻢ ﻭﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﻛﺎﻟﻨﺴﺐ ﻓﻜﻔﻰ ﻓﻴﻪ ﺍﻹﺣﺘﻤﺎﻝ. ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺮﺿﻌﺔ ﻣﺰﻭﺟﺔ ﺃﻡ ﺑﻜﺮﺍً ﺃﻡ ﺑﺨﻼﻓﻬﻤﺎ ﻭﻗﻴﻞ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻟﺒﻦ ﺍﻟﺒﻜﺮ ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻮﻳﻄﻲ

Referensi :

Hukum Melihat Kemaluan Pasangan Saat Berhubungan Intim

Hal ini masih banyak yang mempertanyakan, sehubungan masalah ini memang bersinggungan dengan area yang sangat Intim, pokok-pokok aurat yang sangat disembunyikan oleh kaum perempuan, sehingga seolah-olah tiada yang patut melihat, memegang, selain kita sendiri. Oleh sebab itu masih banyak pertanyaan yang di ajukan oleh kaum Muslimah berkaitan dengan hukum ini. Pada dasarnya syari’at sudah memiliki pondasi pada Ayat berikut :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُو جِهِمْ حَفِظُونَ ۝ إِلاَّ عَلَى أَزْوَجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُمَلُومِينَ ۝

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.” [Qs. Al-Ma’arij: 29-30]

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ وَقَالَتْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ نَغْرِفُ مِنْهُ جَمِيعًا

Telah menceritakan kepada kami 'Abdan berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari 'Aisyah berkata,: Adalah Nabi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. jika mandi janabat, mencuci tangannya dan berwudlu' sebagaimana wudlu' unmtuk shalat. Kemudian mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya Beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu membasuh seluruh badannya. 'Aisyah berkata,: Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dari satu bejana dimana kami saling mengambil (menciduk) air bersamaan.[HR.bukhari No : 264]

Ibnu ‘Urwah al Hanbali rahimahullah berkata dalam mengomentari hadits di atas, “Dibolehkan bagi setiap pasangan suami istri untuk memandang seluruh tubuh pasangannya dan menyentuhnya hingga farji’ (kemaluan), berdasarkan hadits ini. Karena farji’ istrinya adalah halal baginya untuk dinikmati, maka dibolehkan pula baginya untuk memandang dan menjamahnya seperti anggota tubuhnya yang lain.” [Lihat al-Kawaakib (579/29/1]. Para ulama sepakat akan bolehnya menyentuh kemaluan istri. Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi berkata :

سَأَل أَبُو يُوسُفَ أَبَا حَنِيفَةَ عَنِ الرَّجُل يَمَسُّ فَرْجَ امْرَأَتِهِ وَهِيَ تَمَسُّ فَرْجَهُ لِيَتَحَرَّكَ عَلَيْهَا هَل تَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا ؟ قَال : لاَ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ الأَْجْرُ

“Abu Yuusuf bertanya kepada Abu Hanifah rahimahullah- tentang seseorang yang memegang kemaluan istrinya, dan sang istri yang menyentuh kemaluan suaminya agar tergerak syahwatnya kepada sang istri, maka apakah menurut anda bermasalah?. Abu Hanifah berkata, “Tidak mengapa, dan aku berharap besar pahalanya” [Haasyiat Ibni ‘Aabidiin 6/367, lihat juga Al-Bahr Ar-Raaiq syarh Kanz Ad-Daqoiq 8/220, Tabyiinul Haqo’iq 6/19]

Pernyataan sebagian fuqohaa yang menunjukkan akan bolehnya mencium kemaluan (vagina) wanita. Hal ini sangat ditegaskan terutama di kalangan para ulama madzhab Hanbali, dimana mereka menjelaskan akan bolehnya seorang suami mencium kemaluan istrinya sebelum berjimak, akan tetapi hukumnya makruh setelah berjimak [lihat Kasyaaful Qinaa’ 5/16-17, Al-Inshoof 8/27, Al-Iqnaa’ 3/240].

Al-Mil-bariy Al-Fananiy (dari kalangan ulama abad 10 hijriyah) dari madzhab As-Syafi’iyah dalam menyikapi permasalahan semacam ini berkata dengan gamblang seperti berikut :

يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُل تَمَتُّعٍ مِنْهَا بِمَا سِوَى حَلْقَةِ دُبُرِهَا ، وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا

“Boleh bagi seorang suami segala bentuk menikmati istrinya kecuali lingkaran dubur, bahkan meskipun mengisap kiltorisnya” (Fathul Mu’iin bi Syarh Qurrotil ‘Ain bi Muhimmaatid diin, hal 482, terbitan Daar Ibnu Hazm, cetakan pertama tahun 1424 H-2004 H, Tahqiq : Bassam Abdul Wahhaab Al-Jaabi). Bahkan ada sebagian fuqoha yang menyatakan bolehnya lebih dari sekedar mencium. Yaitu bahkan dibolehkan menjilat kemaluan sang istri.Al-Hatthab rahimahullah berkata :

قَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَال : لاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الْفَرْجِ فِي حَال الْجِمَاعِ ، وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ : وَيَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ ، وَهُوَ مُبَالَغَةٌ فِي الإِْبَاحَةِ ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ

“Telah diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwasanya ia berkata, “Tidak mengapa melihat kemaluan tatkala berjimak”. Dan dalam riwayat yang lain ada tambahan, “Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya”.Dan ini merupakan bentuk mubalaghoh (sekedar penekanan) akan bolehnya, namun bukan pada dzhohirnya” [Mawahibul Jaliil 5/23].

وَلِلزَّوْجِ) وَالسَّيِّدِ فِي حَالِ الْحَيَاةِ (النَّظَرُ إلَى كُلِّ بَدَنِهَا) أَيْ الزَّوْجَةِ وَالْمَمْلُوكَةِ الَّتِي تَحِلُّ وَعَكْسُهُ، وَإِنْ مَنَعَهَا كَمَا اقْتَضَاهُ إطْلَاقُهُمْ، وَإِنْ بَحَثَ الزَّرْكَشِيُّ مَنْعَهَا إذَا مَنَعَهَا وَلَوْ الْفَرْجَ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ وَلَوْ حَالَةَ الْجِمَاعِ

dan untuk suami dan sayyid (tuannya budak) di waktu hidup boleh melihat semua anggota tubuh istri dan budaknya ,di mana itu di halalkan bagi suami , dan sebaliknya walaupun suami mencegah istri untuk melihat auratnya, seperti penetapan kemutlaqan ulama', dan walaupun az zarkasyi membahas mencegah istri (untuk melihat aurat suami) bila suami melarangnya . Dan (boleh bagi suami melihat semua tubuh istri) walaupun farjinya, akan tetapi disertai kemakruhan, walaupun di tingkah hubungan intim.[tuhfatul muhtaj 7/206]

(قَوْلُهُ: وَإِنْ بَحَثَ إلَخْ) غَايَةٌ (قَوْلُهُ: وَإِنْ بَحَثَ الزَّرْكَشِيُّ إلَخْ) اعْتَمَدَهُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةُ فَقَالَا وَاللَّفْظُ لِلْأَوَّلِ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَلَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَنْظُرَ إلَى عَوْرَةِ زَوْجِهَا إذَا مَنَعَهَا مِنْهُ بِخِلَافِ الْعَكْسِ اهـ وَهَذَا ظَاهِرٌ، وَإِنْ تَوَقَّفَ فِيهِ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ اهـ.

(قَوْلُهُ: مَنَعَهَا إلَخْ) فَإِنْ مَنَعَهَا حَرُمَ عَلَيْهَا النَّظَرُ لِمَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ اهـ بُجَيْرِمِيٌّ عَنْ الزِّيَادِيِّ وَفِي ع ش عَنْ سم عَنْ م ر مَا يُوَافِقُهُ (قَوْلُهُ وَلَوْ الْفَرْجَ) إلَى التَّنْبِيهِ فِي النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ وَعَلَيْهِ يَنْبَغِي إلَى وَخَرَجَ (قَوْلُهُ: وَلَوْ الْفَرَجَ إلَخْ) رَاجِعٌ إلَى الْمَتْنِ

perkataan mushannif walaupun az zarkasyi membahasnya itu ghoyah (in ghoyah menandakan khilaf) begitu juga khotib asy sarbini ,imam romli dalam kitab mughni dan nihayah mengikuti pendapat az zarkasyi, berkata az zarkasyi tidak boleh bagi istri melihat aurat suami bila suami mencegahnya, berbeda bila sebaliknya ( suami boleh melihat aurat istri walaupun istri mencegah) dan ini jelas,walaupun sebagian ulama' muta'akhirin tidak membahasnya .

perkataan mushannif مَنَعَهَا إلَخْ bila suami mencegah istri (melihat aurat suami) maka haram bagi istri untuk melihat di antara pusar sampai lutut suami . selesai bujairomi dari az ziyadi, begitu juga imam romli dan ali syibromilisi yang mencocoki pendapat az zarkasyi. perkataan mushannif walaupun farji, begitu juga di tutur dalam kitab at tanbih, nihayah, mughni. [حاشية الشرواني   7/206 ]

Maka suami boleh melihat dan menikmati seluruh anggota tubuh istrinya. Sebagaimana Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rahimahullah Memaparkan ketika menafsirkan surat “an-Nuur ayat 31”, “Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan dan perintah menundukkan pandangan dari orang lain) memang diperuntukkan baginya (yakni suami). Maka seorang istri boleh melakukan sesuatu untuk suaminya, yang tidak boleh dilakukannya di hadapan orang lain.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/284].

Wallahu A’lam
Referensi:
http://www.iqro.net

11 January 2016

Hukum Tahlilan bagi Perempuan Haid

Mati tidak mengenal kompromi. Kapapun bisa datang, dimanapun bisa terjadi. Dan mati juga tidak bisa ditawar apalagi dimajukan waktunya 'fala yasta'khiruna sa'atan wa la yastaqdimun'. Begitulah aturan dari Yang Maha Kuasa. Dia yang memberi penghidupan Dia pula yang berhak mencabutnya kembali. Kapanpun dia suka.

Sehubungan dengan mati, maka ta'ziyah dan tahlil sebagai acara do'a bersama tidak bisa dilewati. Meskipun banyak orang yang mengatakan do'a untuk orang mati tidak sampai, tetap saja keluarga tidak tega untuk tidak mendoakannya. 

Apalagi jika si mayit itu ayah, suami, kakak atau adik yang memiliki peran dan kontribusi pada kehidupan kita. Apalagi yang dapat kita berikan kepadanya selain do'a. Uang, emas, mobil tidak dapat dia bawanya ke alam kubur. Bahkan harta yang dikumpulkannya selama hidupnya malah akan segera dibagi-bagi sebagai warisan. Sungguh kasihan jika mayit tidak kita bekali dengan do'a, dan sungguh tega jika hanya do'apun kita tidak memberikannya.
 
Namun sekali lagi kematian datang sesuka hati, dia tidak tahu ternyata istri, adik, kakak, ataupun emak yang ditinggalkan dalam keadaan hadats besar. Seringkali mereka bingung bolehkah berkirim do'a membaca surat ikhlas dan Fatihah, jika dalam keadaa haidh. Padahal mayit kesayangan sangat membutuhkan do'anya?
 
Mengenai hal ini I'anatuht Thaibin menerangkan dengan jelas:

وإن قصد الذكر وحده أو الدعاء أو التبرك أو التحفظ أو أطلق فلا تحرم لأنه عند وجود قرينة لا يكون قرأنا إلا بالقصد ولوبما لا يوجد نظمه فى غير القرأن كسورة الإخلاص
 
Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdo'a, atau ngalap berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun (selama tidak berniat membaca al-Qur'an) maka (membacaal-qu'an bagi perempuan haidh) tidak diharamkan. Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah al-Qur'an kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Qur'an. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari alqur'an semisal surat al-ikhlas.

Demikianlah seseungguhnya seorang yang sedang haidh diperbolehkan membaca al-Qur'an selama tidak diniatkan untuk berzikir maupun berdo'a demikian pula membaca tahlil dan tahmid dan takbir. Bahakan dalam kitab al-Mizanul Kubra diterangkan dengan tegas bahwa Imam Malik memperbolehkan wanita haidh membaca al-Qur'an.

 
Takutlah kamu dari wujud kebaikan Alloh yang di berikan kepadamu, padahal kamu masih tetap bermaksiyat kepadaNya, yang kelak bisa menjadi istidraj (membiarkan kamu bersenang-senang dalam kenikmatan itu). Seperti Firman Alloh : " Secara berangsur-asur Kami (Alloh) akan mengarahkan mereka kepada kebinasaan, dari arah yang tidak mereka duga."